Rabu, 26 September 2007

PT Gajah Tunggal Tbk akan “right issue”

BURSA EFEK DAN PASAR UANG - Guna menurunkan rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio), PT Gajah Tunggal Tbk (Gajah Tunggal) berencana untuk menerbitkan penawaran saham terbatas (right issue). Namun kepastian keputusan untuk right issue tersebut baru akan diputuskan pada akhir tahun 2007 ini.

Saat ini Gajah Tunggal mempunyai kewajiban floating rate notes (FRN) sebesar US$ 72 juta dan akan segera jatuh tempo pada tahun 2008 nanti. Sementara, debt to equity ratio yang dimiliki oleh Gajah Tunggal untuk saat ini sudah mencapai 1,6 kali (www.bisnis.com).

Rencananya, perseroan akan menurunkan debt to equity ratio nya hingga mencapai 1 kali yaitu dengan melunasi sebagian kewajiban sebesar US$ 22 juta. Sedangkan US$ 50 juta sisanya yang jatuh tempo pada tahun 2008, akan dilunasi dengan menggunakan kas internal perseroan.

Menurut Direktur Gajah Tunggal, Chatarina Widjaja, dana hasil right issue nanti tidak akan digunakan untuk belanja modal ataupun ekspansi perseroan, karena saat ini perusahaan masih memiliki cukup dana untuk memenuhi kedua hal tersebut.

Kamis, 21 September 2006

PT Gajah Tunggal Tbk Raih Asia’s Best Managed Company in Indonesia

SINAR HARAPAN - PT Gajah Tunggal Tbk. mendapat penghargaan Asia’s Best Managed Company in Indonesia dari Euromoney. Penghargaan ini diberikan oleh Neil Osborn, Vice Chairman Euromoney PLC kepada Christopher Chan, President Director PT. Gajah Tunggal Tbk. dalam acara Euromoney Awards, di Singapura, pada Senin (18/9) lalu.

Pengakuan komunitas internasional dalam bentuk penghargaan "Asia’s Best Managed Company in Indonesia" dari Euromoney tersebut diharapkan dapat terus meningkatkan kinerja Gajah Tunggal menjadi perusahaan papan atas di masa datang, demikian Christopher Chan dalam sambutannya.

Untuk itu dia berterima kasih kepada pelaku pasar modal dalam negeri maupun luar negeri yang turut membantu PT Gajah Tunggal Tbk meningkatkan performa manajemen perusahaan hingga pada posisi sekarang ini.

PT Gajah Tunggal Tbk. Adalah produsen ban terintegrasi terbesar di Asia Tenggara dengan nilai total penjualan bersih di tahun 2005 mencapai Rp 4,834 trilliun. Hampir 50 persen penjualan produk ban perusahaan ini dipasarkan ke seluruh dunia, dengan pasar ekspor terbesar Eropa dan Timur Tengah. (PR/*)

Senin, 11 September 2006

Pembalap Gajah Tunggal Juara

SINAR HARAPAN - Pembalap Gajah Tunggal Racing Team Andi Barata keluar sebagai juara divisi I Honda Jazz Vitec One Make Race (OMR) Challenge di Sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat, Minggu (10/9).

Meskipun begitu, dalam klasemen umum, Andi Barata harus puas di peringkat kedua hingga putran ketiga kejuaraan jenis “touring car’ ini. Pimpinan klasemen divisi I masih dikuasi Oke D Junjunan dari tim Shell-Honda Bandung Centre (SHBC).

Oke mengumpulkan nilia 28, sedang Andi Barata 25 dan Dendi Rukmana (Astaga.com Racing Team) mengumpulkan nilai 24.

Persaingan di papan atas tampak ketat. Oke harus bertarung keras di kelompok Divisi I (seeded) hingga dua seri tersisa pada musim lomba tahun ini. Pasalnya, Andi dan Dendy merupakan juara bertahan dan runner up tahun lalu.
Balapan itu sendiri diikuti 17 starter yang terdiri dari 3 divisi. Pembalap tim SHBC lainnya Ronny S. Tedja dan Wiwi merebut posisi runner-up dan posisi ketiga Divisi-II (nonseeded).

Riset Khusus. Pada kejurnas balap mobil kali ini PT Gajah Tunggal mengadakan riset khusus untuk memproduksi ban GT Radial Champiro HPX yang sesuai kesepakatan dengan Pengurus Pusat Ikatan Motor Indonesia (PP IMI). Rencananya, ban Champior HPX akan dipakai sebagai ban resmi grand final seri kejurnas, Desember mendatang.
Ban tersebut akan dipakai di kelas GT Car Championship yang merupakan kejuaraan balap mobil ATPM. Johanes Maria, Marketing Manager GT Radial mengaku puas melihat persaingan di kelas-kelas kejurnas ini.
“Persaingan di kelas kelas ATPM ini membuat kami makin terpacu memproduksi ban yang lebih baik,” kata Johanes.

Klasemen Divisi-1, hingga putaran ketiga: 1. Oke D. Junjunan (Tim Shell- Honda Bandung Centre) 28, 2. Andi Barata (Gajah Tunggal Motorsport) 25, 3. Dendy Rukmana (Astaga.Com Racing) 24.

Hasil lomba divisi-1: 1. Andi Barata (Gajah Tunggal Motorsport) 23’:45,643”, 2. Dendy Rukmana (Astaga.Com Racing) 23:49,734, 3. Oke D. Junjunan (Shell-Honda Bandung Centre) 23:56,001”,4. Deva (Sagung Motorsport) 24:696”, 5. Aswin Bahar.

Divisi II (nonseeded): 1. Dalvin K. (CK Motorsport) 23’:50,349”, 2. Rony S. Tedja (Shell-Honda Bandung Centre) 23’:56,565”, 3. Wiwi (Shell-Honda Bandung Centre) 24:02,549”, 4. Bandar (Yellow Pages Tim Racing) 24:11, 5. Christian (Jaya Niaga) 25:12,004. (fat/non)

Rabu, 12 Oktober 2005

Gajah Tunggal Naikkan Harga Ban

TEMPO INTERAKTIF - Gajah Tunggal berencana menaikan harga produksi bannya sebesar 5 hingga 10 persen pada akhir tahun 2005. "Room material naik akibat kenaikan harga BBM,"kata Direktur PT Gajah Tunggal Tbk, Catarina Widjaya di Jakarta.

Kenaikan, hanya berpengaruh secara langsung sebesar 7 persen terhadap total produksi. PT Gajah Tunggal memproduksi ban motor sebanyak 35 ribu per hari dan ban radial sebanyak 30 ribu per hari. "100 persen produksi ban motor ditujukan untuk pasar domestik, sedangkan 86 persen ban radial untuk pasar ekspor,"ujar Catarina.

Tahun ini, Gajah Tunggal menargetkan penjualan naik 20 persen dibanding tahun 2004 yang nilainya Rp 3,877 milyar. Hingga Juni 2005 lalu, penjualan ban diperusahaan itu mencapai Rp 2,3 milyar. "Kami optimis dapat memenuhi target tersebut karena volume motor Indonesia naik, apalagi pasar purna jual sangat besar," kata Catarina.

Untuk ban motor, lebih ditujukan kepada kendaraan produksi Jepang. Sementara ban radial banyak digunakan oleh kendaraan produksi Korea dan Jepang. "Ekspor kami yang paling kuat adalah ke Eropa,"ujar Catarina.

Gajah Tungal, menurut Catarina, belum berencana membeli kembali obligasi perusahaannya dan juga belum ada keinginan untuk menerbitkan saham baru (re-issue). "Sampai saat ini, modal kami masih mencukupi,"ujarnya.

Selasa, 26 Oktober 2004

Gajah Tunggal Petrochem Konversi Utang Menjadi Saham

TEMPO INTERAKTIF - Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT Gajah Tunggal Tbk menyetujui rencana konversi saham anak perusahaannya, yakni PT Gajah Tunggal Petrochem Industries Tbk (GT Petrochem) dalam rangka penyelesaian utang.

Jumlah saham yang dikeluarkan dalam rangka konversi sebanyak 1,649 miliar saham baru dari simpanan (portepel) perseroan tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu, dengan harga nominal Rp 500. Pengeluaran saham tersebut mengakibatkan peningkatan modal dari Rp 1,120 trilliun menjadi Rp 1,944 trilliun.

Konversi saham dilakukan atas utang GT Petrochem kepada HSBC Trustee senilai US$ 73,3 juta dalam bentuk Floating Rate Note (FRN) Tranche C , serta utang perseroan ke Garibaldi senilai Rp 164,9 miliar. Dari proses konversi, kepemilikan saham baru oleh HSBC Trustee sebanyak 1,319 miliar dan Garibaldi sebanyak 329 juta saham baru.

Dari kepemilikan saham ini, terdapat perubahan struktur kepemilikan GT Petrochem dimana HSBC Trustee menguasai 34,94 persen dan Garibaldi sebesar 19,94 persen, masyarakat 16,75 persen, sedang sisanya dimiliki oleh GT.

Selain persetujuan konversi saham, RUPSLB menyetujui restrukturisasi perusahaan. RUPSLB menyetujui pengambilalihan Gajah Tunggak atas seluruh aktiva tetap divisi tired cord GT Petrochem senilai Rp 1,045 triilliun. Pembayaran akan dilakukan dengan cara novasi atau pengalihan sebagian utang GT Petrochem kepada HSBC Trustee senilai US$ 30 juta ke perusahaan serta pelunasan sebagian utang perusahaan tersebut kepada Gajah Tunggal.

Pengambilalihan seluruh aktiva tetap PT Sentra Sintetikajaya (SSJ) sebagai salah satu anak perusahaan GT Petrochem senilai Rp 644 miliar. Pengambilalihan ini dilakukan dengan cara pelunasan sebagian utang Sentra ke Gajah Tunggal.

Selain itu RUPSLB menyetujui divestasi kepemilikan 51 persen saham perusahaan di PT Langgeng Bajapratama, anak perusahaan yang memproduksi kawat baja. Pelepasan Langgeng dilepaskan kepada GT Prakarsa yang juga sebagai pemegang saham. "Dilepasnya Langgeng karena industri kawat tidak menguntungkan, terakhir Langgeng negatif modal Rp 41 miliar," ujar Mulyati Ghozali,Vice President GT.

Dengan adanya restrukturisai maka kepemilikan saham Gajah Tunggal pada GT Petrochem menjadi 28,36 persen dari jumlah sebelumnya 50,01 persen. Dan kepemilikan Gajah Tunggal pada Langgeng enjadi hilang sama sekali.

Menurut Kisyuwono, Direktur Gajah Tunggal, rasio utang menjadi berkurang dari US$ 661 juta, setelah konsolidasi menjadi US$ 296 juta pada tahun depan, dan ditahun 2006 diperkirakan menjadi US$ 253 juta. "Sehingga rasio utang setelah konsolidasi menjadi 25 persen," katanya

Sampai dengan September 2004,laba bersih yang diperoleh Gajah Tunggal sebesar Rp 263 miliar, turun drastis dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,075 trilliun.

Menurut Kisyuwono, terjadinya penurunan pendapatan karena rugi kurs. Adapun penjualan mengalami peningkatan, sampai dengan September 2004 memperoleh Rp 5,241 trilliun sedangkan pada periode yang sama tahun 2003 memperoleh Rp 4,351 trilliun.

Adapun GT Petrochem mencatat laba sampai dengan September 2004 sebesar Rp 115 miliar, turun drastis dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 1,009 trilliun. Berkurangnya laba disebabkan perusahaan mengalami rugi kurs.

Setelah mendapat persetujuan RUPSLB,maka rencana ini segera direalisasi dan ditargetkan selesai sampai akhir tahun 2004.(Yuliawati)